Selasa, 06 Maret 2012

Menguak Sosok Tan Harry Tantono Alias Ayung

Dari Bandar Narkoba ke PT Sanex Steel Indonesia

Polisi merilis John Kei ditangkap terkait pembunuhan bos PT Sanex Stell Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung. Meski demikian modus pembunuhan Ayung kini masih simpang siur. 


Tan Harry Tantono Alias Ayung, Bos PT. Sanex Steel
PEKAN lalu, Ratusan kelompok warga yang terdiri dari FBR dan Forkabi, warga Timor serta Flores dan kelompok Ternate mendatangi Markas Besar Polri. Persis di depan gedung Bareskrim Polri, mereka melakukan unjuk rasa. Dalam orasinya, para kelompok ormas itu meminta agar polisi memberikan hukuman mati kepada John Kei karena dianggap sebagai preman keji.
Massa yang datang dengan menggunakan puluhan sepeda motor ini membawa poster dan spanduk yang menghujat perilaku John Kei. Tak hanya itu, kelompok ini juga meneriakkan yel-yel: Bebaskan tanah Betawi dari John Kei! Para pendemo yang berikat kepala tali rapia merah menuding John Kei otak di balik kasus Blowfish beberapa tahun lalu.
"Kami dukung polisi untuk menjebloskan John Kei ke penjara. John Kei di Jakarta tidak ada apa-apanya. Sebaiknya beri hukuman yang seberat-beratnya. Dia membuat investor dan pengusaha takut untuk buka usaha di sini karena tindakan premanismenya," begitu teriakan para orator demo tersebut bergantian.
Kelompok Ormas ini juga mengatakan siap memberikan bukti kepada polisi dengan catatan kasus John dituntaskan. Termasuk kasus-kasus premanisme yang belakangan ini tengah menghantui masyarakat Jakarta. "Kami juga bekas teman dekat dia, bukti ada, kami siap dukung Polri. Dia mengatasnamakan Kei dalam aksi-aksinya. Kami orang Kei tidak seperti itu. Tindak kekerasan itu melanggar hukum. Kami dukung polisi usut John Kei dan anak-anak buahnya," tegas Daud Kei, yang mengaku salah satu kenalan John Kei.
Sejak 1990-an, sosok John Refra Kei telah meramaikan peta kekuatan penguasa bawah tanah Jakarta. Dan John Kei dikabarkan berseteru dengan kelompok gangster Ibu Kota, seperti Basri Sangaji (Kelompok Maluku), Hercules (kelompok Timor), Thalib Makarim (kelompok Flores-Ende), dan keponakannya, Umar Kei (kelompok Pulau Kei yang mayoritas Islam).
Nama John Kei menjadi buah bibir tak lama setelah Basri Sangaji tewas terbunuh di hotel Kebayoran Inn pada 2004 lalu. Sejak saat itu nama Ketua Angkatan Muda Kei (Amkei) ini bak tiada tandingan. Di mata pengikutnya yang loyal, sosok John Kei bagaikan idola. Pastinya, mereka selalu mendambakan sosok John Kei.
Namun bagi pihak lawan justru sebaliknya. Sosok John Kei dianggap tak obahnya bagiakan racun yang harus segera disingkirkan. Maka tak heran bila persaingan wilayah kekuasaan masing-masing kelompok hingga kini masih saja tetap terus terjadi. Belakangan ini nama John Kei kembali melejit pasca terbunuhnya bos PT Sanex Steel Indonesia.
Mantan Direktur Utama PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah sofa di kamar hotel Swiss-belhotel pada Kamis (26/1) malam. Polda Metro Jaya setidaknya telah menahan enam orang terkait kasus ini. Mereka adalah Tuce Kei, Ancola Kei, Candra Kei, Dani Res, Kupra, dan John Kei.
Informasi seputar terbunuhnya bos PT Sanex Steel Indonesia itu kini masih simpang siur. Polisi menyebut-nyebut Jonh Kei berada di balik kasus pembunuhan sadis itu. Penyidik bilang, modus pembunuhan ini terkait penagihan utang. Namun banyak yang meragukan motif pembunuhan tersebut.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Nico Afinta sendiri meragukan motif tunggal dalam kasus pembunuhan Ayung yang menurut pengakuan para tersangka hanya karena penagihan upah fee debt collector. Katanya, pembunuhan itu terlalu berlebihan kalau motifnya hanya penagihan utang
"Kalau motifnya menagih utang atau menagih fee, cara yang mereka tempuh sudah sangat berlebihan. Sepengetahuan saya, tak ada kelompok penagih utang menempuh cara brutal seperti yang mereka lakukan. Korban mendapat 32 luka. Tujuh di antaranya luka tusuk dan luka gorok," tegas Nico.
Kuasa hukum John Kei, Taufik Candra spontan membatah tudingan tersebut. Taufik Candra mengatakan, kliennya tidak terlibat pembunuhan meski ia berada di tempat kejadian perkara. Menurutnya, pembunuhan sadis tersebut dilakukan oleh teman-teman John Kei yang menagih fee pada Ayung.
"John Kei kesal karena ada teman-teman John Kei yang bekerja untuk Ayung tanpa sepengetahuan John Kei. Oleh karena itu John Kei bersama beberapa temannya pergi meninggalkan kamar hotel, sementara beberapa teman John Kei lainnya yang menagih fee, tetap bersama Ayung," ungkap Taufik.
Lantas siapa sebenarnya Tan Harry Tantono? Bos PT Sanex Steel Indonesia ini bukanlah orang sembarangan. Nama Ayung cukup populer di kancah dunia bisnis. Kepiawaiannya mengelola PT Sanex Steel Indonesia membuat tak sedikit kalangan pejabat, dan para jenderal dekat dengan Ayung.
Sosok Tan Harry Tantono alias Ayung juga telah terpancang lama di dunia hitam. Bagi Ayung, keluar- masuk penjara bukan hal yang baru. Dia bahkan tergolong narapidana yang dikenal sangat licin karena selalu bisa berkelit dari jeratan hukum. Bukan itu saja, dalam berbagai kasus hukum, Ayung juga mampu “mengatur” aparat penegak hukum di negeri ini.

Teror Premanisme

“Pak cik pak-pak preman preman oh oh.. Pak cik pak pak metropolitan.. Dari lorong-lorong yang sempit.. Dalam kehidupan malam s’lalu siaga.. Setiap saat selalu sigap terjang bahaya.. Siapaun dihadapinya.. Sini preman, sana preman sedang beraksi.. Wajah dingin dan seram siap menerkam.. Jangan kau coba kawan, cari perkara.. Sejurus berarti petaka aaaaa… oww!”