Selasa, 06 Maret 2012

Teror Premanisme

“Pak cik pak-pak preman preman oh oh.. Pak cik pak pak metropolitan.. Dari lorong-lorong yang sempit.. Dalam kehidupan malam s’lalu siaga.. Setiap saat selalu sigap terjang bahaya.. Siapaun dihadapinya.. Sini preman, sana preman sedang beraksi.. Wajah dingin dan seram siap menerkam.. Jangan kau coba kawan, cari perkara.. Sejurus berarti petaka aaaaa… oww!”



TERJARING-Seorang preman terjaring razia 
LAGU rock ciptaan rocker lawas Ikang Fauzi yang dirilis 1986 silam itu kini benar-benar menjadi kenyataan. Sair dan lirik lagu ini, bait demi bait begitu sangat identik dengan suasana kehidupan di ibukota. Betapa tidak, era reformasi “era kebebasan” yang diharapkan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat  justru berbuah kebebasan bagi para preman.
Di mana-mana ada preman! Tak hanya ditemui di sudut-sudut jalanan ibukota, preman bak jamur, tumbuh subur dan menyebar ke berbagai lini. Mereka kini telah menelusup masuk ke gedung parlemen. Bahkan ditengarai, preman telah membaur dan “menggurita” di tubuh pemerintahan. 
Tak percaya? Lihat saja perilaku sejumlah oknum pejabat di pemerintahan dan para polisiti di DPR, nyaris tidak ada bedanya dengan preman. Malah lebih ganas lagi. Perilaku mereka “yang korup” kadang bikin bulu kuduk bergidik cing. Masih mending almarhum Gus Dur bilang:  anggota DPR itu seperti anak TK he..he..he..
Pun pesan moral yang disampaikan lewat lagu rock ini, sama persis dengan kondisi keamanan dan kenyamanan plus kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Seperti kata lirik lagu ini: pekerjaan sangat sukar, juga pendidikan. Di sudut-sudut jalanan banyak pengangguran. Jadi preman tuk cari makan”. Yes..itu benar sangat.
Maklum, rocker lawas Ikang Fauzi memang menulis lagu ini terinsfirasi dari sisi kelam kehidupan para kaum preman di kawasan Blok M, kala itu. Bedanya, lagu rock ini hanya bercerita  bahwa mereka terpaksa menjadi preman sekedar untuk mencari makan saja. Tidak seperti sekarang. Menjadi preman justru sebuah “jalan pintas” mencari harta berlimpah!
Tak bisa dipungkiri, mahluk bernama preman kini tak lagi sekedar momok bagi masyarakat ibukota. Melainkan telah menjelma menjadi sebuah gankster sekaligus monster paling menakutkan bagi masyarakat. Artinya, kehadiran preman bukan hanya sangat meresahkan tetapi teror di tengah-tengah masyarakat.
Mantan preman dan mantan penjahat kakap, Anton Medan menyebutkan, kelompok preman di tanah air terdiri dari dua kategori, yakni preman kerah putih dan kerah dekil. Kelompok preman kerah putih katanya ada di DPR. Sementara preman kerah dekil itu hanya sekedar untuk mencari makan alias terpaksa.
“Preman itu bukan berarti penjahat. Tapi penjahat sudah pasti preman. Preman kerah putih itu adanya di gedung DPR. Mereka membaur ke ranah politik. Misalnya pada Pilkada dan Pilpres. Ini yang sangat berbahaya sekali,” begitu pengasuh pondok pesantren At - Taibin ini mengingatkan.
Dikatakan, kaum preman kini telah menyebar merambah berbagai bidang di tanah air. Mereka ada dimana-dimana, semila di perkebunan-perkebunan sawit besar di Sumatra maupun di Kalimantan. Bisanya dia bilang, preman inilah yang disebut kelompok-kelompok preman terorganisir yang dimanfaatkan para pengusaha untuk menguasai tanah-tanah adat di daerah.
“Mereka memang tidak berhubungan langsung dengan polisi. Tapi pengusahanya yang biasanya koordinasi dengan kapolres-kapolres setempat sebagai penguasa wilayah. Dan ini sudah sangat meresahkan masyarakat. Contohnya, keributan yang berujung terbunuhnya sejumlah warga di Mesuji Lampung,” tegas Anton Medan.
Corak preman pun kian beragam. Ada kelompok preman berkedok debt collector. Juga ada yang berlindung di balik organisasi masyarakat (ormas). Tak hanya itu saja. Bahkan, ada yang mengagung-agungkan asma Allah bergaya bak preman. Kelompok ini juga tak segan-segan melakukan pengerusakan terhadap sejumlah usaha hiburan malam di ibukota.
Preman berkedok debt collector juga tak kalah seru, saat melakukan aksi teror di tengah masyarakat. Pada pertengahan April 2011, Irzen Octa, seorang nasabah Citibank tewas di tangan dept collector. Hasil visum, Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) itu tewas karena mengalami pecah pembuluh darah otak saat diinterogasi di kantor Citibank. Kasus ini juga sempat heboh.
Teror berkepanjangan juga dilakukan Front Pembela Islam (FPI). Ormas yang dibidani Habib Rizieq Sihab ini belakangan sempat menjadi sorotan masyarakat. Akibat ulah ormas ini bahkan memaksa Mendagri Gamawan Fauzi untuk kembali mengkaji ulang UU Nomor 8 Tahun 1985 yang mengatur tentang ormas.
“UU ini tidak bisa lagi mengakomodir dinamika yang berkembang. Prosedurnya terlalu panjang untuk pembekuan dan pembubaran ormas. Yang jelas, kalau memang ada bukti-bukti kuat, tentu kita ambil langkah-langkah. Sebab, kalau dia (FPI) melakukan tindakan anarki tentu harus dihukum. Semoga insiden FPI tak merembet ke masalah SARA,” harapnya.
Kondisi itu kemudian diperparah lagi dengan munculnya preman berseragam alias preman kerah putih. Hukum diperjual-belikan! Pencuri sandal jepit dihukum berat. Sementara koruptor dihukum seringan-ringannya. Bahkan masih banyak yang bebas berkeliaran mengeruk uang rakyat untuk memperkaya diri dan kelompoknya.
Kelompok preman pun tak mau ketinggalan. Mereka bertindak bak manusia kebal hukum. Tak lagi pilah-pilah. Kelompok preman terorganisir ini setiap saat siap beraksi kapan dan dimana saja. Sepertinya, membunuh dan dibunuh bagi kelompok ini sudah merupakan perbuatan yang lumrah. Mereka sudah tak takut lagi dengan aparat kepolisian.
Pekan lalu, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto diserang sekelompok preman bersenjata golok dan samurai. Setidaknya dua orang tewas akibat penyerangan yang dilakukan sekelompok pemuda Ambon itu. Polisi kini telah menangkap Edo, yang diduga sebagai otak penyerangan di rumah duka RSPAD itu.
Edo Cs ditangkap di Kawasan Kampung Ambon, Cengkareng Jakarta Barat. Santer kabar, penyerangan yang dilakukan kelompok Edo itu erat kaitannya dengan transaksi narkoba. Kabarnya, kelompok yang diserang beli sabu-sabu senilai Rp300 ribu. Belakangan si pembeli ogah bayar alias nunggak sehingga terjadi keributan berujung maut di rumah duka RSPAD.
Yang tak kalah menarik adalah ulah Dominggus, seorang debt collector yang tengah menjalani sidang  di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Sang terdakwa satu ini tiba-tiba mengamuk di ruangan sidang. Dia tak terima saksi yang dihadirkan jaksa dan berteriak-teriak menantang duel Kapolsek Pasar Minggu Kompol Adri Desas Furianto. 
Kelompok Jhon Kei sebelumnya pernah mengobrak-abrik PN Jaksel, pada 2010. Peristiwa tersebut terjadi ketika sidang lanjutan penganiayan dan pembunuhan di kelab malam Blowfish. Kemudian pada 2004, kelompok Jhon Kei juga pernah bentrok dengan kelompok Basri Sangaji di luar gedung PN Jakarta Selatan.
Perang preman merah Versus preman putih kala itu diawali dengan terbunuhnya abang kandung Jhon Kei di halaman PN Jakarta Barat. Dendam kesumat kedua kelompok pemuda asal Ambon itu pun berlanjut. Nyawa sang kakak kemudian harus dibayar mahal. Basri Sangaji terbunuh dengan cara sadis di Hotel Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 
Sebelum akhirnya ditangkap atas tuduhan dugaan pembunuhan bos PT Sanex Grup, Tan Harry Tantono alias Ayung,  tindak-tanduk kelompok Jhon Kei di ranah preman kian menjadi-jadi. Ironisnya, kondisi ini bak dibiarkan begitu saja oleh para petinggi di negri ini. Anehnya lagi, meski Jhon Kei adalah tersangka pembunuhan bukan berarti pria asal Pulau Kei itu diperlakukukan tidak layak.
Faktanya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung Suharsono Rajab menyempatkan diri menjenguk Jhon Kei saat di rawat di RS Polri. Dia bilang, kedatangannya ke RS Polri sekedar melakukan pendekan manusiwai. Untung S Rajab bahkan sadar, apa yang dialakukan bakal menuai banyak pendapat, sorotan, dan berbagai macam persepsi. 
“Itu kan pendekatan-pendekatan manusiawi. Kan orangnya bangsa kita ini juga. Saya datang ke sana ngecek fisik, bagaimana sih yang ditembak anggota itu. Lagian yang diperangi polisi adalah perbuatan jahat. Bukan orangnya,” begitu Kapolda Metro Jaya Untung S Rajab Berdalih.  
 Perlakuan istimewa Kapolda Metro Jaya terhadap John Refra Kei spontan membuat publik skeptis terhadap kepolisian. Anggota Komisi III DPR,  Eva Sundari menyesali sikap Kapolda yang terkesan menimbulkan tanda tanya baik kepada masyarakat atau jajaran anak buahnya.
"Tindakan Kapolda Metro Jaya adalah sikap pejabat Polri yang ambigu, saling memberi pernyataan yang membingungkan masyarakat, malamnya menembak, esoknya harinya bersenda gurau dengan John Kei. Publik jadi gamang juga? Lalu, omong apa saja kapolda dalam kamar dengan John Kei?" Tegas Eva.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan Polri tidak konsisten jika berhadapan dengan premanisme. Eva menilai, seharusnya Kapolri sepatutnya mempunyai garis yang tegas, memberikan komando dan semua bawahan harus patuh. 
"Sungguh sikap para pejabat mengecewakan masyarakat karena jauh dari  konsistensi, kewibawaan, kesungguhan jika berhadapan dengan tokoh-tokoh  premanisme. "Jangan biarkan premanisme membajak NKRI, sehingga rakyat tidak terlindungi," tandas Eva.  MR Nasution

Tidak ada komentar:

Posting Komentar