Polisi merilis John Kei ditangkap terkait pembunuhan bos PT Sanex Stell Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung. Meski demikian modus pembunuhan Ayung kini masih simpang siur.
![]() |
| Tan Harry Tantono Alias Ayung, Bos PT. Sanex Steel |
Massa yang datang dengan menggunakan puluhan sepeda motor ini membawa poster dan spanduk yang menghujat perilaku John Kei. Tak hanya itu, kelompok ini juga meneriakkan yel-yel: Bebaskan tanah Betawi dari John Kei! Para pendemo yang berikat kepala tali rapia merah menuding John Kei otak di balik kasus Blowfish beberapa tahun lalu.
"Kami dukung polisi untuk menjebloskan John Kei ke penjara. John Kei di Jakarta tidak ada apa-apanya. Sebaiknya beri hukuman yang seberat-beratnya. Dia membuat investor dan pengusaha takut untuk buka usaha di sini karena tindakan premanismenya," begitu teriakan para orator demo tersebut bergantian.
Kelompok Ormas ini juga mengatakan siap memberikan bukti kepada polisi dengan catatan kasus John dituntaskan. Termasuk kasus-kasus premanisme yang belakangan ini tengah menghantui masyarakat Jakarta. "Kami juga bekas teman dekat dia, bukti ada, kami siap dukung Polri. Dia mengatasnamakan Kei dalam aksi-aksinya. Kami orang Kei tidak seperti itu. Tindak kekerasan itu melanggar hukum. Kami dukung polisi usut John Kei dan anak-anak buahnya," tegas Daud Kei, yang mengaku salah satu kenalan John Kei.
Sejak 1990-an, sosok John Refra Kei telah meramaikan peta kekuatan penguasa bawah tanah Jakarta. Dan John Kei dikabarkan berseteru dengan kelompok gangster Ibu Kota, seperti Basri Sangaji (Kelompok Maluku), Hercules (kelompok Timor), Thalib Makarim (kelompok Flores-Ende), dan keponakannya, Umar Kei (kelompok Pulau Kei yang mayoritas Islam).
Nama John Kei menjadi buah bibir tak lama setelah Basri Sangaji tewas terbunuh di hotel Kebayoran Inn pada 2004 lalu. Sejak saat itu nama Ketua Angkatan Muda Kei (Amkei) ini bak tiada tandingan. Di mata pengikutnya yang loyal, sosok John Kei bagaikan idola. Pastinya, mereka selalu mendambakan sosok John Kei.
Namun bagi pihak lawan justru sebaliknya. Sosok John Kei dianggap tak obahnya bagiakan racun yang harus segera disingkirkan. Maka tak heran bila persaingan wilayah kekuasaan masing-masing kelompok hingga kini masih saja tetap terus terjadi. Belakangan ini nama John Kei kembali melejit pasca terbunuhnya bos PT Sanex Steel Indonesia.
Mantan Direktur Utama PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah sofa di kamar hotel Swiss-belhotel pada Kamis (26/1) malam. Polda Metro Jaya setidaknya telah menahan enam orang terkait kasus ini. Mereka adalah Tuce Kei, Ancola Kei, Candra Kei, Dani Res, Kupra, dan John Kei.
Informasi seputar terbunuhnya bos PT Sanex Steel Indonesia itu kini masih simpang siur. Polisi menyebut-nyebut Jonh Kei berada di balik kasus pembunuhan sadis itu. Penyidik bilang, modus pembunuhan ini terkait penagihan utang. Namun banyak yang meragukan motif pembunuhan tersebut.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Nico Afinta sendiri meragukan motif tunggal dalam kasus pembunuhan Ayung yang menurut pengakuan para tersangka hanya karena penagihan upah fee debt collector. Katanya, pembunuhan itu terlalu berlebihan kalau motifnya hanya penagihan utang
"Kalau motifnya menagih utang atau menagih fee, cara yang mereka tempuh sudah sangat berlebihan. Sepengetahuan saya, tak ada kelompok penagih utang menempuh cara brutal seperti yang mereka lakukan. Korban mendapat 32 luka. Tujuh di antaranya luka tusuk dan luka gorok," tegas Nico.
Kuasa hukum John Kei, Taufik Candra spontan membatah tudingan tersebut. Taufik Candra mengatakan, kliennya tidak terlibat pembunuhan meski ia berada di tempat kejadian perkara. Menurutnya, pembunuhan sadis tersebut dilakukan oleh teman-teman John Kei yang menagih fee pada Ayung.
"John Kei kesal karena ada teman-teman John Kei yang bekerja untuk Ayung tanpa sepengetahuan John Kei. Oleh karena itu John Kei bersama beberapa temannya pergi meninggalkan kamar hotel, sementara beberapa teman John Kei lainnya yang menagih fee, tetap bersama Ayung," ungkap Taufik.
Lantas siapa sebenarnya Tan Harry Tantono? Bos PT Sanex Steel Indonesia ini bukanlah orang sembarangan. Nama Ayung cukup populer di kancah dunia bisnis. Kepiawaiannya mengelola PT Sanex Steel Indonesia membuat tak sedikit kalangan pejabat, dan para jenderal dekat dengan Ayung.
Sosok Tan Harry Tantono alias Ayung juga telah terpancang lama di dunia hitam. Bagi Ayung, keluar- masuk penjara bukan hal yang baru. Dia bahkan tergolong narapidana yang dikenal sangat licin karena selalu bisa berkelit dari jeratan hukum. Bukan itu saja, dalam berbagai kasus hukum, Ayung juga mampu “mengatur” aparat penegak hukum di negeri ini.
Masih ingat kasus seorang tahanan yang dipergoki nyabu di dalam sel tahanan Polda Metro Jaya? Tak lain dan bukan dia adalah Tan Harry Tantono alias Ayung. Ceritanya, Ayung ditangkap Polantas PJR di Tol Cikupa, Tangerang saat mengendarai Mercy S-600 B 8642 TX, pada 31 Desember 2006.
Lantas dia dijebloskan ke tahanan atas kasus kepemilikan narkoba dan dua KTP dengan nama berbeda. Penangkapan Ayung pun sempat geger. Pasalnya, tak lama berselang Ayung dipergoki petugas tengah asik nyadu dalam sel tahanan. Dari sel Ayung, Polisi menyita 2,8 gram sabu berikut bong (alat penghisap sabu) dan uang tunai Rp 13 juta.
Singkat cerita, Tan Harry Tantono divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) enam bulan dikurangi masa tahanan. Sementara untuk perkara kepemilikan sabu saat ditangkap di Tol Cikupa maupun yang diseludupkan oleh salah seorang penjenguk ke sel tanahan Polda Metro Jaya, Ayung lolos dari jeratan hukum.
Tak hanya itu saja. Saat menjadi penghuni kamar Blok K 6, Ayung juga tetap bisa bebas keluar-masuk Rutan Salemba. Tan Harry Tantono diketahui keluar Rutan salemba pada 30 Mei 2007. Kemudian pada 10 Juli 2007, atas kesadarannya sendiri Ayung kembali masuk ke Rutan Salemba. Dia dikabarkan “cuti” ke Hongkong. Luar biasa bukan?
Jejak rekam Tan Harry Tantono di dunia hitam tak hanya berhenti sampai disitu saja. Sebelum hijrah ke Jakarta Ayung merupakan buronan yang paling dicari polisi di Surabaya. Dia diburu polisi dan terpaksa hengkang ke Jakarta karena terlibat kasus dugaan kepemilikan dan peredaran narkoba di Surabaya.
Tan Harry Tantono alias Ayung dinyatakan buron sejak 2006. Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim mengeluarkan daftar pencarian orang (DPO) atas nama Tan Harry Tantono alias Ayung dengan No. Pol : DPO/09/III/2006/DIT NARKOBA tanggal 13 Maret 2006. Dia masuk DPO atas tuduhan tindak pidana pengedar narkoba.
Konon, berbekal uang hasil penjualan narkoba, Ayung bertolak ke Jakarta menemui Direktur Megantara Universal, Hok Giok Kie alias Arifin. Keduanya kemudian sepakat mendirikan pabrik peleburan baja, yang kini dikenal dengan PT Sanex Steel. Arifin memiliki saham 80 persen, sementara sisanya milik Ayung.
Seiring waktu rupa-rupanya komposisi kepemilikan saham berubah. Ayung menjadi pemilik mayoritas saham, sedangkan Arifin hanya 17 persen. Menurut Ayung, Arifin telah menjual sahamnya. Namun Arifin membantah pernyataan tersebut. Walhasil kasus tersebut pun dilaporkan Arifin ke Polda Metro Jaya.
Kisruh kepemilikan PT Sanex Steel memuncak setelah Arifin, selaku pemilik saham terbesar mengundurkan diri karena bersengketa dengan tiga Direktur PT Sanex, Kong Tju Yun, Rudy Santoso, dan Tan Harry Tantono. Ketika itu Hok Giok Kie alias Arifin meminta 17 persen saham PT Sanex dikembalikan kepada dirinya.
Tapi lagi-lagi Arifin terpaksa gigit jari. Ayung akhirnya berkuasa setelah memenangkan perkara kepemilikan asset PT Sanex Steel di pengadilan. Arifin pun tersingkir karena tak kuat melawan Ayung yang konon dibekingi sejumlah petinggi polisi.
“Saya ditipu Tan Harry Tantono saat mendirikan PT Sanex Steel di Cikupa Tangerang. Modal perusahaan itu 80 persen dari saya. Tapi dia orang menendang saya dari perusahaan,” aku Arifin kepada Objective News, jauh sebelum kasus terbunuhnya bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono mencuat.
Nah, ihwal kedekatan Tan Harry Tantono dengan John Key disebut-sebut bermula ketika mereka sama-sama ditahan di Polda Metro. Sumber Objective News menyebutkan, Tan Harry Tantono diduga menggunakan jasa John Kei untuk memenangkan perkara kepemilikan asset PT Sanex Steel Indonesia.
Namun dugaan itu dibantah Taufik Candra, kuasa hukum John Kei. Menurut Taufik, John Kei tidak pernah bekerja dengan Ayung. Namun Taufik membenarkan bila John Kei dan Ayung berteman baik sejak mereka sama-sama ditahan di Polda Metro Jaya.
"John Kei dan Ayung bertemu pertama kali di rumah tahan (Rutan) Ditreskrimum Polda Metro tahun 2007. Saat itu Ayung terbelit kasus pemalsuan KTP dan sabu. Sementara John Kei terlibat kasus pengrusakan di Pondok Gede, Jakarta Timur. John Kei tidak pernah bekerja pada Ayung. Keduanya teman baik saja,” ungkap Taufik.
Ayung juga pernah diadili di PN Jakarta Utara dalam kasus serupa. Majelis hakim PN Jakarta Utara kala itu memvonisnya lima bulan penjara atas tuduhan pemalsuan surat berupa KTP, Akte Kelahiran Asli No. 1073/1061 yang dikeluarkan di Surabaya dan Surat keterangan Kewarganegaraan RI No.693/Ket/1977 tanggal 21 April 1977.
Soal palsu-memalsu ini juga tergolong sangat menarik. PN Surabaya jauh sebelumnya telah menyatakan bahwa akte kelahiran Tan Harry Tantono yang berganti nama dari nama Tan Ing Hauw adalah palsu. Fakta menyebutkan, Tan Ing Hauw (nama yang digunakan Tan Harry Tantono) sudah meninggal pada usia 3,5 tahun.
Tan Ing Hauw dimakamkan pada 1 September 1964 di Makam Kristen Kembang Kuning, Kota Surabaya. Setelah diteliti, mama dan nomor serta tanggal kewarganegaraan RI yang digunakan Tan Harry Tantono adalah atas nama Lay Tjeong Lion, lahir di Makassar, tanggal 14 Desember 1952. dia ini anak dari Lay Hwa Shio alias Shiong.
Dengan akte kelahiran palsu itu Ayung kemudian membuat kartu keluarga (KK) beralamat di Pandugo Baru 1/32 K-1, RT 10 RW 4, Kelurahan Penjaringan Sari, Rungkut, Surabaya. Dalam KK yang diterbitkan tahun 1999 itu tercatat nama Tan Harry Tantono, Njoo Greta Tanuwijaya, Juliani Tantono, Junior Tantono, dan Junisca Tantono. MR Nasution



dibuat film godfather indonesia keren nih
BalasHapusntu knp foto lulung ya yg dipajang? hahaha
BalasHapusitu lulung hahahaha
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusGold Strike Casino T-Shirt - T-Shirt
BalasHapusGold Strike Casino T-Shirt. $39.95 | T-Shirts in titanium nitride coating service near me stock at T-Shirts | titanium nose stud T-Shirt Shop | T-Shirt Shop titanium exhaust tips in Las Vegas, NV | T-Shirt. Rating: nipple piercing jewelry titanium 4.2 · titanium mens wedding band 5,400 votes
look at this site dildos,dog dildo,dog dildo,cheap sex toys,vibrators,cheap sex toys,vibrators,realistic dildo,vibrators,male masturbator view website
BalasHapus